PANGANDARAN BERJUTA KENANGAN

 




PANGANDARAN BERJUTA KENANGAN

Sudasih, S.Pd.

 

Lambaian nyiur menyapa pagiku. Debur ombak menambah keindahan panorama pantai pangandaran, dihiasi sunrise yang memulai menampakan diri dan tersenyum penuh pesona, menyambut pagi yang indah mengiringi aktivitas para nelayan yang hilir mudik mulai mengarungi Samudra yang luas, untuk mengais rezeki demi keluarga yang sangat dicintainya.

Ombak menghadang badai menerjang namun sedikitpun tak gentar piawainya dalam menarik jaring dari laut ke darat menjadi perhatian wisatawan, baik manca negara maupun lokal yang menurut mereka mungkin itu dianggap unik beda dengan nelayan didaerahnya yang menangkap ikan menggunakan mesin. Gotong royong bekerja sama menarik jala guna mendapat hasil tangkapannya itu ciri khas yang setiap hari dilakukan oleh nelayan dipantai timur pangandaran.

Seiring dengan irama waktu seolah-olah para nelayan berada dalam perlombaan antara gelombang ombak yang sangat dasyat dan terik matahari, namun para nelayan pangandaran terkenal dengan semangatnya dan ketangguhannya.

Tak sengaja kelopak mataku melirik masih seputar di pantai timur, ku tatap indahnya panorama pantai dari kejauhan, kulihat pancaran warna merah yang memikat perhatian mataku kuayunkan langkahku untuk mendekat, ternyata ooh … itu kah yang disebut orang-orang dengan istilah “Jembatan Merah“ pangandaran? Spot baru untuk memanjakan mata wisatawan mengagumi indahnya ciptaan Tuhan. Bagaimana tidak? di pagi hari wisatawan disuguhkan dengan indahnya panorama atau sunrise yang sangat elok menghiasi cakrawala alam pantai pangandaran. Bukan itu saja ada sebagian pengunjung yang memanfaatkan untuk sarana jogging, banyak juga yang sekedar berselfie ria, dan ada juga yang sekedar duduk-duduk santai sambil menikmati segelas coffe dipagi hari.

Konon menurut cerita penduduk pangandaran, di jembatan merah pada jam kunjungan sore hari para wisatawan akan disuguhkan atraksi surfing dari anak-anak nelayan pantai pangandaran. Dengan piawainya anak-anak nelayan pantai pangandaran meluncurkan selancar dengan sangat canggih sehingga wisatawan merasa dimanjakan atau terpesona hingga bisa duduk berlama-lama hanya untuk menyaksikan atraksi surfing.

Wisatawan yang berkunjung pada siang hari, tidak akan mendapatkan pengalaman atau suguhan yang menarik selain hanya ada hilir mudik kendaraan roda empat, motor, sepedah, dan bentor karena waktu jam berkunjung yang tidak tepat.

Dari pantai timur aku dan putri kecilku menyisir bibir-bibir pantai dan sampailah kita dipantai barat. Putri kecilku berlari kecil menghampiri deburan ombak yang garang seolah-oleh siap menerkam sampai ditepi pantai, putri kecilku asik bercanda bersendagurau dengan gulungan ombak laut biru. Ombak seolah-olah menjadi sahabat karibnya waktu itu sedikitpun tiada gentar walau pengawas/penjaga pantai sudah memberikan warning dengan suara spiker untuk lebih berhati-hati dan tidak berenang terlalu ketengah. Ombak yang bergulung-gulung dan sangat dahsat seakan-akan mengalunkan sebuah irama lagu yang syahdu. Aku menatap jauh ke sejauh-sejauhnya mata memandang, dalam hatiku berguman “Ya Allah Sungguh Indah Ciptaanmu“ tanpa aku sadari putri kecilku telah menepi dibibir pantai, putri kecilku bersama temannya yang biasa dia panggil dengan sebutan okeu asyik membuat istana dari pasir. “Mami, lihat bagus kan?” tanya putri bungsuku.

Air laut beriak begitu indah, menambah kecerian suasana. Raut wajah bahagia putriku dan temannya itu membuat hatiku tenang. Kularut bersama kebahagiaan mereka. Ya Allah… “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” tak pantas rasanya bila kita tak bersyukur, begitu indahnya alam semesta yang Allah ciptakan.

Tak terasa akhirnya kamipun sampai kembali di hotel dimana kami menginap selama dipangandaran. Kami segera bersih-bersih dari butiran pasir-pasir yang masih menempel kemudian kami beristirahat sejenak sambil menunggu waktu shalat ashar tiba. Setelah shalat ashar kami pun bersiap untuk melanjutkan petualangan yang ditemani oleh abang bentor. Kami menyusuri pantai barat menikmati indahnya suasana sore dipantai pengandaran. Setelah melewati alun-alun pengandaran abang bentor menunjukan ke arah sebelah kiri jalan yang bertuliskan “Taman Dirgantara“ lalu abang bentor sebagai guide menjelaskan kalau itu Lapangan terbang milik ibu Susi yang memiliki nama lengkap ibu Susi Pujiastuti (Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan) juga pemilik penerbangan “Susi Air”. Kami pun turun sebentar sekedar berfoto untuk diabadikan.

Kamipun melanjutkan perjalanan, masih ditemani abang bentor yang kami sewa sekalian sebagai guide kami selama dipangandaran. Bentor pun melaju dengan kecepatan yang cukup sehingga kami bisa menikmati indahnya panorama di sore hari. Saking asyiknya kami tidak sadar kalau abang bentor sudah memarkirkan bentor di halaman depan resto tepatnya di kampung turis. Kamipun turun dan masuk menuju “Bamboo Café & Resto“ milik Teh Maya.

Begitu melewati pintu masuk aku dikagetkan dengan suara putri kecilku “Mom is a Horse”. Rupanya itu pertanda kalau putri kecilku ingin berkuda. “Apakah incess mau berkuda?” tanyaku. Dengan anggukan tanda kalau ia mau berkuda akupun memanggil abang kuda. Dengan bantuan abang kuda akhirnya putri kecilku bersama temannya berkuda menyisir bibir-bibir pantai disekitaran kampung turis dihiasi suasana sunset yang sangat indah. Sambil menunggu putri kecilku yang sedang berkuda aku pun menikmati sajian bala-bala chicken dan hot lemon tea ditemani suasana sunset yang begitu indah. Tak sadar aku larut dalam lamunan.

Aku baru sadar kalau putri kecilku yang sedang berkuda tidak kunjung kelihatan, hatiku mulai was was ada rasa takut dan tidak tenang, akupun akhirnya memanggil abang kuda hendak menyusul putri kecilku. “Bang…” panggilku tolong saya antar dengan kuda abang untuk menyusul putriku yang belum juga kembali. Abang kuda pun mendekat dan dengan bantuannya aku pun berhasil menaiki kuda, baru beberapa langkah kuda berjalan, tampak dari kejauhan kelihatan kuda yang ditunggangi putriku dan temannya melaju mendekat kearahku berlawanan arah. “Alhamdulillah…” gumamku dalam hati, putriku dan temannya selamat sampai tempat dimana kami menduduki meja No.26 karena meja kami kebetulan tepatnya dipinggir pantai. Melihat kampung turis aku jadi ingin “Jimbaran” di Bali suasananya persis sekali Jimbaran. Ternyata Jawa Barat juga punya Jimbaran yang tidak kalah keren juga dengan Jimbaran di Bali.

Aku melihat wajah putriku dan temannya begitu ceria. Gembiranya itu aku abadikan dengan foto-foto yang akan dibingkai sebagai kenangan indah. Akupun ikut larut dalam kebahagiaan mereka.

 

 

 





PROFILE PENULIS

 

 

  Pemilik nama Sudasih, Lahir di kota Udang pada tanggal 08 Juli 1969. Saya melanjutkan Pendidikan terakhir di Universitas Pasundan Kota Bandung Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia lulus tahun 1998

Saya mengawali karir di Yayasan Krida Nusantara sebagai Guru SD dengan tugas tambahan sebagai PKS Kurikulum untuk dua periode. Di Krida Nusantara saya mendapat penghargaan sebagai guru teladan pada tahun 2002.

Setelah saya PNS saya melanjutkan karir di SDN 029 Cilengkrang Kota Bandung. Saya pernah mendapatkan tugas sebagai Instruktur Nasional K13 di Lingkungan Dinas Pendidikan Kota Bandung. Saya juga diberi kesempatan untuk menjadi pelatih membatik di FLS2N tingkat Provinsi Jawa Barat mewakili Kota Bandung.

Pada tahun 2021 saya kembali mendapatkan penghargaan sebagai guru berprestasi tingkat Kecamatan Cibiru Kota Bandung.

Di bidang menulis saya baru merintis baru mulai belajar berkarya. Saya berharap semoga torehan pena saya bisa menjadi inspirasi umumnya untuk pembaca khususnya untuk saya sendiri.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI

Kelas Belajar Menulis Nusantara

PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI